yang Muda yang Bertani…yang Muda yang Berani

Wajah Ironis Negeri Agraris

Tidak mudah  memang meyakinkan diri ini untuk bergelut sekaligus berkawan  dengan  “dunia” yang semakin hari semakin ditinggalkan generasi muda negeri ini. ’Dunia’ yang identik dengan lumpur, kekeringan, banjir, hama, puso, ketergantungan pupuk kimia, kaum tua, hingga rendahnya tingkat kesejahteraan. Dunia yang bahkan oleh para sarjananya pun banyak ditinggalkan karena mungkin dirasa kurang bergengsi atau  tidak cukup potensial untuk memperoleh kesejahteraan hidup.

Seperti inilah wajah ironis negeri ini…negeri agraris yang seyogyanya memiliki dukungan iklim, sumber daya alam yang berlimpah dan juga sumber daya pemuda yang begitu potensial namun justru  ditinggalkan. Bahkan bukan tidak mungkin bila suatu hari  kita pun akan mengimpor sarjana pertanian di tengah ribuan sarjana pertanian yang dihasilkan negeri ini.

Dalam upaya terus meyakinkan diri ini, ada tetesan tetesan optimisme yang mengalir perlahan meyakinkan diri akan besarnya potensi yang dimiliki sektor pertanian negeri ini, baik dimasa kini maupun  masa mendatang. Dan sudah barang tentu hal ini tidak akan pernah bisa beranjak maju hanya dengan sekedar wacana-wacana pembaharuan  tanpa adanya usaha kongkrit  terutama dari generasi muda untuk memiliki kemauan terjun di sektor ini sementara membiarkan kaum tua bergelut sendirian dengan segala keterbatasannya menghadapi berbagai permasalahan yang ada di lapangan.

Ketika Pemuda tak lagi Peduli

petani-di-sawahAda perasaan miris dan penuh tanya ketika dalam setiap perjalanan ke pelosok  desa yang sebagian besar merupakan masyarakat tani, kita akan menemui lebih banyak kaum tua yang bekerja di pesawahan. Sementara generasi muda  berbondong bondong mengosongkan desanya untuk mencari nafkah di kota yang dinilai lebih pasti.

Bertani bagi kaum muda pada umumnya dipandang sebagai pekerjaan tradisional yang tidak bergengsi dan tidak menjanjikan masa depan. Kondisi nyata menunjukkan bahwa pertanian sudah menjadi kemiskinan struktural  yang menggambarkan bahwa menjadi seorang petani niscaya akan miskin. Paradigma berfikir ini tentu saja berimbas terhadap kaum muda yang semakin banyak meninggalkan bidang ini karena terkesan kumal dan jauh dari sejahtera. Harus diakui memang, seperti itulah kenyataan yang ada saat ini dan  harus segera diatasi dengan solusi nyata.

Di luar itu, sebuah keadaan yang semestinya membuat kita tersadar bahwa tak akan lama lagi  bencana besar sedang menanti negeri ini. Bencana kelaparan di tengah negeri yang ‘kaya raya’.  Kehilangan generasi penerus (data menunjukkan dalam dua dekade terakhir, sektor pertanian  didominasi kelompok umur lanjut /di atas 45 tahun dan terjadi  penurunan tajam  pada kelompok umur 24-45 tahun yang mencapai jutaan orang) , konversi lahan pertanian yang demikian cepat mencapai 100 hektar per tahun, produktivitas lahan pertanian yang kian hari kian menurun, sementara pertumbuhan jumlah penduduk terus meningkat merupakan faktor-faktor yang begitu potensial terhadap terjadinya ancaman rawan pangan.

No Pain No Gain

Realita yang ada semestinya tidak membuat kita seolah-olah menutup mata dan telinga. Tanpa harus selalu mengkambinghitamkan berbagai pihak terutama pemerintah yang dituding tidak banyak berpihak terhadap pertanian, hal yang pantas untuk dilakukan oleh kaum muda adalah mempersiapkan diri secara keilmuan, mental, dan tenaga untuk terjun di sektor ini salah satunya melalui kegiatan kewirausahaan yang seyogyanya menyediakan tantangan yang luar biasa bagi  kaum muda sehingga mendorong kita untuk berfikir dan bekerja lebih kreatif. Dan tentunya sebuah pemikiran hanya akan  berhasil diwujudkan manakala ditunjang dengan keyakinan yang kuat, ikhlas dalam setiap perbuatan, semangat dalam merealisasikan, dan siap untuk berkorban.

Salah satu contoh usaha real kaum muda sebagai bentuk kecintaan terhadap bidang pertanian  yaitu seperti yang dilakukan oleh para alumni ITB yang tergabung dalam Ganesha Entrepreneur Corporation. Dalam salah satu unit kegiatannya yang bernama Ganesha Organik SRI para anggota berupaya untuk mengembangkan serta menyebarluaskan pola pertanian padi SRI Organik. Pola pertanian padi SRI Organik ini merupakan gabungan antara metoda SRI (System of Rice Intensification) yang pertamakali dikembangkan di Madagascar, dengan pola pertanian organik yang diharapkan dapat meningkatkan produktifitas pertanian sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pihak luar. Meskipun para anggotanya tidak satupun berlatar belakang secara formal dari bidang pertanian, namun hal ini tidak menjadi hambatan untuk turut serta berkontribusi memperbaiki kondisi pertanian di Indonesia.

sapan5

Note.

Kebutuhan Global terhadap ketersediaan pangan di masa mendatang yang semakin meningkat seharusnya tidak sekedar menjadikan kita generasi muda  hanya sebagai penonton apalagi sebagai konsumen melainkan sebagai pelaku utama penggerak ekonomi negeri ini.

Kita bisa bangkit dan bersama membuat sejarah namun kita juga bisa diam dan hanya menjadi sejarah.

Pilihan ada di tangan kita

Make a History or Become a History

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: