APA YANG DIMAKSUD DENGAN PERTANIAN ORGANIK ?

IMG_4313

Lembaga dunia yang bergerak dalam pengembangan pertanian organik, IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movements), mendefinisikan pertanian organik sebagai sistem pertanian holistik (menyeluruh) yang dapat mendukung dan menjaga keanekaragaman hayati, serta keberlangsungan siklus biologi dan aktivitas biologi tanah.

Melalui sistem ini kegiatan usaha tani secara keseluruhan, baik proses produksi maupun proses pengolahan hasil dikelola secara alami dan ramah lingkungan tanpa menggunakan bahan kimia sintetis dan rekayasa genetik sehingga diharapkan mampu menghasilkan produk yang sehat, berkualitas serta berkelanjutan.

Lebih dari itu, harapan yang menjadi dasar dari dikembangkannya sistem pertanian organik ini ialah terbangunnya kemandirian dan kesejahteraan para petani yang selama ini identik dengan potret kehidupan yang serba kekurangan dan hanya menjadi objek pembodohan dari para pelaku pasar yang tidak bertanggung jawab.

Dalam pertanian organik potensi sumber daya alam tidak lagi hanya dipandang sebagai obyek eksploitasi melainkan sebagai aset kehidupan yang harus dipelihara dan dijaga kelestariannya sehingga dapat menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dan alam serta dengan seluruh tatanan sosial ekonomi di sekitarnya sebagai sebuah bentuk kearifan lokal.

KEBUTUHAN LAHAN

Lahan yang digunakan untuk produksi pertanian organik harus terbebas dari bahan kimia sintetis baik pupuk kimia maupun pestisida kimia. Lahan yang digunakan untuk mengembangkan pertanian organik bisa berupa lahan pertanian yang baru dibuka ataupun lahan pertanian intensif yang telah dikonversi menjadi lahan pertanian organik. Lamanya masa transisi dari lahan pertanian intensif ke lahan pertanian organik sangat tergantung pada sejarah penggunaaan lahan, pupuk, pestisida, dan jenis tanaman. Pada umumnya koversi lahan berlangsung dalam rentang waktu 1-2 tahun. Pada masa peralihan ini bukan berarti lahan dibiarkan pasif melainkan harus tetap ditanami secara organik sehingga kualitas tanah yang diharapkan akan lebih cepat terbentuk.

PUPUK ORGANIK

Sesuai namanya pupuk organik berasal dari bahan-bahan organik atau alami. Bahan-bahan yang termasuk pupuk organik diantaranya pupuk kandang, kompos, kascing, gambut, rumput laut, dan guano. Berdasarkan bentuknya pupuk organik dapat dikelompokkan menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Beberapa orang juga mengelompokkan pupuk-pupuk yang ditambang seperti dolomit, fosfat alam, kiserit, dan juga abu (yang kaya K) ke dalam golongan pupuk organik. Adapun pupuk organik cair diantaranya cairan hasil komposting, ekstrak tumbuh-tumbuhan, cairan fermentasi limbah cair peternakan, fermentasi tumbuhan-tumbuhan, dan lain-lain.

Snapshot_20090509_44

Pupuk organik memiliki kandungan hara yang lengkap. Bahkan di dalam pupuk organik juga terdapat senyawa-senyawa organik lain yang bermanfaat bagi tanaman, seperti asam humik, asam fulvat, dan senyawa-senyawa organik lain.

TATARAN PRAKTIS PERTANIAN ORGANIK

  • Melindungi dan meningkatkan kesuburan jangka panjang dari tanah. Melindungi tanah berarti juga melindungi beragam organisme seperti cacing tanah dan mikroorganisme yang mempunyai peranan penting dalam proses penyuburan tanah

  • Memperkaya siklus biogikal dalam pertanian, khususnya siklus makanan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengembalikan hara atau nutrisi yang terangkut tanaman dengan menambahkan pupuk organik dari berbagai sumber secara periodik ke dalam tanah baik dalam bentuk segar maupun kompos. Selain itu juga dengan mengembalikan sisa sisa panen serta serasah ke lahan untuk mengembalikan hara yang terangkut tanaman.

  • Memberikan pasokan nitrogen dengan penggunaan secara intensif tanaman yang dapat memfiksasi nitrogen seperti kacang-kacangan.

  • Perlindungan tanaman secara biologikal berdasarkan pada pencegahan daripada pengobatan. Ini dapat dilakukan dengan menanam tanaman yang berfungsi untuk pengendalian hama dan penyakit seperti kenikir, kemangi, lavender, mimba, dll.

  • Meningkatkan keragaman varietas tanaman dan spesies binatang, sesuai dengan kondisi lokal.

  • Menyediakan air yang cukup dan bebas bahan agrokimia
  • Menjaga kebersihan areal pertanaman
  • Penolakan pada pupuk kimia, pelindung tanaman, hormon dan pengatur tumbuh

  • Pelarangan terhadap Rekayasa Genetika dan produknya

  • Pelarangan dalam metoda bantuan pemrosesan dan kandungan yang berupa sintetis atau merugikan didalam pemrosesan makanan

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: