Kunci Kegagalan

peanuts-never-ever-ever

Kita semua tidak ingin gagal. Kita semua menghindari kegagalan. Tetapi rupanya kegagalan sangat akrab dalam kehidupan kita. Banyak  target yang tak tercapai, banyak cita-cita yang tak terealisir, dan banyak harapan tinggallah kosong.

Mengapa kita gagal dan tidak mencapai keberhasilan? Mengapa kita  belum berhasil dan menemui kegagalan? Apakah kegagalan merupakan  realitas wajib sehingga keberhasilan dapat kita apresiasikan? Pertanyaan-pertanyaan diatas sering menghantui kita dan memerlukan  jawaban dari kita masing-masing.

Kegagalan tidak terjadi dalam semalam. Keberhasilanpun tidak dicapai  dalam sehari. Kedua tesis di atas sangat sederhana tetapi juga sangat  benar.

Saya teringat ucapan seorang dokter tetangga saya, ketika pulang  mengantarkan tetangga kami yang kena serangan jantung ke rumah sakit  gawat darurat. Dia berkata bahwa sebetulnya serangan jantung tidak  datang dengan tiba-tiba, tetapi bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh  tahun penyakit jantung telah ditimbun mulai dari merokok terlalu  banyak, minum kopi terlalu banyak, malas olahraga sehingga sedikit  demi sedikit pembuluh darah semakin menyempit.

Akhirnya sedemikian sempitnya sehingga kegagalan jantung terjadi.  Benarlah bahwa kegagalan jantung tidak terjadi dalam semalam melainkan ditumpuk bertahun-tahun, sedikit demi sedikit.

Keberhasilan pun berlangsung dengan modus yang sama, sedikit demi  sedikit keberhasilan ditumpuk sedemikian rupa sehingga keberhasilan itu lama kelamaan besar. Secara teoritis jika seseorang mempelajari  lima kata bahasa Inggeris perhari maka dalam setahun dia akan  memiliki hampir dua ribu kosa kata dan dalam lima tahun pasti bisa  menguasai sepuluh ribu kosa kata. Tetapi berapa banyakkah orang yang  lulus perguruan tinggi mampu berbahasa Inggris dengan lancar? Tidak  banyak. Mengapa? Karena mereka gagal menghafal lima bahasa Inggris  perhari.

Masih banyak contoh dapat kita berikan tentang kebenaran tesis bahwa  keberhasilan adalah kemampuan mengambil langkah-langkah kecil untuk  mencapai hasil yang besar. Dan bahwa kegagalan adalah ketidakmampuan  menghindari hal-hal kecil sampai ia menumpuk sedemikian besar dan tak terhindarkan lagi konsuekuensinya.

Maka rahasia kegagalan adalah gagal mengucapkan selamat pagi, gagal  mengucapkan terima kasih, gagal minta maaf, gagal mengurangi sepiring  nasi dari diet harian, gagal memberi perhatian pada seorang staff,  gagal mengusulkan kenaikan pangkat anak buah, gagal tersenyum, gagal  bertekun setengah jam, gagal berolahraga setengah jam per hari, gagal  sholat sepuluh menit per waktu, gagal membawa mobil ke bengkel untuk  servis rutin, gagal menabung 5% dari penghasilan per bulan, gagal  menutup mulut dari ucapan tak bermutu, dan ribuan kegagalan kecil  lainnya.

Orang bijak berkata berkata bahwa hal-hal kecil memang sepele, tetapi  setia pada perkara-perkara kecil adalah hal yang besar.

Dari Cendol ke Jip

Jika cendolku ini habis terjual, akan kubeli seekor induk ayam. Lalu  ayamnya kupelihara. Bertelor banyak sekali. Selanjutnya aku memiliki  banyak anak ayam,” demikian seorang tukang cendol berangan-angan  sambil setengah mengantuk. Sementara cendolnya sejak pagi belum juga  laku barang segelaspun. Dia bersandar pada batang pohon yang rindang  sehingga terlindung dari sengatan matahari. Dia berharap semoga ada  pembeli menghampiri. Anaknya yang belum terjamah wajib sekolah, ikut  menemaninya berjualan. Di balik pohon itu si anak asyik bermain  jangkrik.

“Wah, kalau ayam-ayam ini kupelihara terus pastilah jadi babon semua.  Kujual, lalu kubeli kambing betina sebagai gantinya,” pikir tukang  cendol melanjutkan angannya. Begitu asyiknya ia berkhayal, sampai  setengah mengingau, sehingga memancing perhatian anaknya.

“Kambing lalu besar. Beranak pinak. Lalu menjadi besar. Kujual semua.  Lantas kubeli anak kerbau. Kupelihara baik-baik, jadi besar, wah … aku ini kaya. Punya banyak kerbau, he … he … he,” tukang cendol benar- benar hanyut oleh sukacita menikmati khayalnya.

“Nanti kerbaunya boleh saya naiki, ya pak? kata anaknya yang dari  tadi menyaksikan bapaknya mengigau, melakonkan impiannya seolah-olah  telah terjadi.

Kaget oleh interupsi ini sang bapak menghardik, “Tidak boleh.  Nantinya kerbaunya jadi cebol!”

“Boleh dong pak! Masak sih kerbau jadi cebol?” rengek anaknya. Merasa  terganggu, dijitaklah anaknya sampai menangis dan berlari menjauh.

Tukang cendol tak perduli dan melanjutkan khayalnya, “Kerbau-kerbauku  kujual semua lalu kubeli jip: rrrrr … kuinjak gasnya … lari … oh … asyik …!” sambil mempraktekkan menekan pedal gas jip barunya.

Tapi malang, pedal jip dalam impian yang ditekan itu ternyata gentong  cendol. Gentong berantakan. Cendol tumpah disertai berakhirnya mimpi  di siang bolong. Dengan wajah lesu dipandangnya cendol yang  berserakan di tanah. Ia tak tahu harus berbuat apa. Si anak yang  sudah berhenti menangis dan berdiri agak jauh, terkejut mendengar  bunyi gentong pecah. Ia tak mengerti mengapa bapaknya “ngamuk”.

Sayang memang, padahal impian itu sebetulnya feasible. Namun,  terlepas dari kemalangan yang menimpanya, tukang cendol tersebut  telah mampu membangun dalam pikirannya suatu cara menjadi kaya.  Perkara apakah jalan pikiran itu dapat direalisasikan, itu memang hal  lain.

Johann Wolfgang Van Goethe pernah berkata,

“Thinking is  easy, acting is difficult, and to put one’s thought into action is the most difficult thing in the world”.

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: